Beberapa Tanya Jawab Penting dalam Islam (Bag 2)

Tanya jawab penting tentang Islam14. Apa fitnah yang paling besar yang dialami manusia?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada perkara yang lebih besar antara penciptaan Adam sampai hari kiamat melebihi (fitnah) Dajjal.” (HR Muslim)

Dajjal adalah seorang laki-laki dari keturunan Adam, keluar pada akhir zaman, di antara kedua matanya tertulis “ك ف ر” (ka–fa–ra) yang bisa dibaca oleh setiap orang yang beriman. Mata kanannya buta, dan biji matanya bagaikan buah anggur yang mengapung. Saat pertama kali keluar dia mengaku sebagai orang shaleh, lalu mengaku sebagai nabi, kemudian mengaku sebagai tuhan. Ia mendatangi suatu kaum dan mengajak mereka pada ajarannya, namun mereka mendustakan dan menolak perkataannya. Lalu dia meninggalkan mereka, lantas harta-harta mereka mengikuti Dajjal, sehingga mereka tidak memiliki apa-apa. Kemudian dia mendatangi kaum lain, lalu ia mengajak mereka kepada ajarannya, lantas mereka menerima dan percaya kepadanya. Dia memerintahkan langit untuk menurunkan hujan, maka turunlah hujan, dan memerintah bumi untuk menumbuhkan, maka tumbuhlah tanaman. Dia mendatangi manusia dengan membawa air dan api. Api yang dibawanya adalah air yang dingin, dan air yang dibawanya adalah api. Sudah sepantasnya setiap orang yang beriman untuk berlindung kepada Allah dari fitnah Dajjal ini pada setiap penghujung shalat, membaca beberapa ayat dari awal Surat al-Kahfi jika bertemu dengannya, dan berusaha menjauhi pertemuan dengannya karena dikhawatirkan terpedaya olehnya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa saja mendengar tentang Dajjal, maka menjauhlah darinya. Demi Allah, sesungguhnya seseorang mendatanginya dan mengira bahwa dia adalah orang yang beriman, lantas dia mengikutinya disebabkan oleh syubhat yang dibawanya.” (HR Abu Daud)

Dajjal berada di muka bumi selama empat puluh hari, di antaranya ada sehari bagaikan setahun, ada sehari bagaikan sebulan, dan ada sehari bagaikan seminggu, dan sisa hari-harinya seperti hari-hari kita ini. Dia tidak akan meninggalkan suatu negeri atau permukaan bumi, kecuali dimasukinya, kecuali Mekkah dan Madinah. Kemudian Nabi Isa ‘alaihi salam turun, lantas membunuhnya.

15. Apakah surga dan neraka itu ada?

Ya benar. Allah telah menciptakan keduanya sebelum penciptaan manusia, keduanya adalah kekal selamanya dan tidak akan musnah. Allah telah menciptakan penghuni bagi surga karena karunia-Nya, dan penduduk bagi neraka dengan keadilan-Nya. Setiap hamba dimudahkan kepada tujuan penciptaannya.

16. Apa arti beriman kepada takdir?

Artinya pembenaran yang pasti bahwa setiap kebaikan dan keburukan terjadi karena takdir dan qadha Allah dan sesungguhnya Allah berbuat apa yang dikendaki-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seandainya Allah menyiksa penduduk langit dan bumi, maka adzab-Nya itu bukanlah kezhaliman terhadap mereka, begitu pula seandainya Allah memberikan rahmat-Nya kepada mereka, maka rahmat-Nya itu lebih baik dari amal kebajikan mereka sendiri. Seandainya engkau menafkahkan emas sebesar gunung Uhud di jalan Allah, maka Allah tidak akan menerimanya sampai engkau beriman kepada taqdir, dan engkau mengetahui bahwa apa yang menimpamu tidak mungkin meleset darimu, dan apa yang terluput darimu, tidak mungkin akan menimpamu. Kalau engkau meninggal dunia di atas selain keyakinan ini, niscaya engkau masuk neraka.” (H.R. Ahmad dan Abu Dawud)

Keimanan kepada qadar mencakup empat perkara:

1) Percaya bahwa Allah mengetahui segala sesuatu, baik secara global maupun rinci.

2) Percaya bahwasanya Allah telah menulis hal tersebut di dalam al-Lauh al-mahfuzh. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah telah menulis takdir semua makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi.” (HR Muslim)

3) Percaya kepada kehendak Allah yang berlaku yang tidak bisa ditolak oleh apapun juga, dan kekuasaan-Nya yang tidak bisa dikalahkan oleh apapun juga. Apa yang dikehendaki Allah pasti terjadi, dan apa yang tidak dikehendak-Nya tidak akan terjadi.

4) Percaya bahwa Allah-lah Sang Maha Pencipta, yang menciptakan segala sesuatu, adapun selain Allah adalah makhluk ciptaan-Nya.

17. Apakah setiap makhluk punya kemampuan, kehendak dan keinginan yang hakiki?

Ya, setiap manusia punya kehendak, keinginan dan pilihan. Akan tetapi hal itu tidak keluar dari kehendak Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah.” (QS al-Insan: 30)

Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Berbuatlah kalian semua, setiap orang dimudahkan kepada tujuan penciptaannya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Allah memberi kita akal pikiran, pendengaran dan penglihatan; untuk membedakan antara yang baik dan buruk. Apakah ada orang yang berakal mencuri, lalu berkata, “Allah telah menetapkan hal itu padaku.” Kalau dia berkata demikian, masyarakat tidak akan memaafkannya, bahkan akan dihukum, lalu dikatakan kepadanya bahwa Allah juga telah mentakdirkan terhadap dirimu hukuman itu. Berargumen dan berdalih dengan takdir tidak dibenarkan, bahkan hal tersebut merupakan pendustaan.

Allah berfirman: “Orang-orang yang mempersekutukan Allah, akan mengatakan, ‘Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apapun.’ Demikian pulalah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul).” (QS al-An’aam: 148)

18. Siapa yang dinamakan wali itu?

Wali itu adalah orang mukmin yang shaleh yang bertakwa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Ketahuilah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa.” (QS Yunus: 62-63)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Waliku hanyalah Allah dan orang shaleh dari kaum mukminin.” (Muttafaqun ‘alaihi)

19. Apa kewajiban kita terhadap sahabat nabi?

Kewajiban kita adalah mencintai mereka, berdo’a untuk mereka supaya mendapat ridha Allah, selamatnya hati dan lidah kita dari pencelaan terhadap mereka, menyebarkan keutamaan mereka, dan tidak memaparkan kejelekan dan perselisihan yang terjadi di antara mereka. Para shahabat tidak ma’sum (terpelihara) dari kesalahan, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang berijtihad. Bagi yang benar dari mereka dalam berijtihad mendapat dua pahala, tapi kalau salah mendapat satu pahala, dan kesalahannya terampuni. Mereka memiliki berbagai keutamaan, yang dapat menghilangkan kesalahan yang terjadi pada mereka jika hal itu memang ada. Mereka berbeda tingkatan. Yang paling utama adalah Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, Thalhah, Zubair, Abdurahman bin ‘Auf, Sa’d bin Abi Waqqash, Sa’id bin Zaid dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah radhiallahu ‘anhum. Kemudian Kaum Muhajirin pada umumnya. Setelah itu adalah mereka yang turut serta dalam perang badar baik dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Kemudian kaum Anshar. Lalu para sahabat yang lain.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku, demi Allah yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, seandainya seseorang dari kalian berinfaq emas sebesar gunung Uhud, hal tersebut tidak akan mencapai segenggam keutamaan salah seorang dari mereka, ataupun separuhnya.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Beliau juga bersabda: “Barangsiapa yang mencela sahabatku, maka baginya laknat Allah, para malaikat dan seluruh manusia.” (HR Thabrani)

20. Bolehkah kita berlebih-lebihan dalam memuji Rasulullah melebihi kedudukan yang telah diberikan Allah kepada beliau?

Tidak diragukan lagi, bahwa nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah makhluk Allah yang paling mulia dan paling utama, namun kita tidak boleh berlebihan memujinya sebagaimana orang Nasrani berlebihan dalam menyanjung Isa ibnu Maryam ‘alaihi salam karena Rasulullah melarang kita untuk melakukan hal tersebut dalam sabdanya: “Janganlah kalian mengithra’-ku sebagaimana kaum Nasrani meng-ithra’ anak Maryam, aku ini hanyalah seorang hamba-Nya, maka katakanlah: hamba Allah dan rasul-Nya.” (HR Bukhari)

Ithra’ adalah tindakan melampaui batas dan berlebih-lebihan dalam memuji.

21. Apakah ahli kitab itu beriman?

Orang Yahudi dan Nasrani serta pengikut agama lain adalah orang-orang kafir, meskipun mereka mengikuti agama yang pada asalnya benar. Jadi siapa saja yang tidak meninggalkan agamanya setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus dan tidak masuk Islam, maka sebagaimana firman Allah: “Maka tidak akan pernah diterima (agama itu) daripadanya, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang merugi.” (QS Ali Imran: 85)

Apabila seorang muslim tidak meyakini kekafiran mereka, atau ragu akan kebatilan agama mereka, maka kafirlah dia; karena mengingkari keputusan Allah dan nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengafirkan mereka. Allah berfirman: “Dan barang siapa di antara mereka (orang-orang Quraisy) dan sekutu-sekutunya yang kafir kepada al-Qur’an, maka nerakalah tempat yang diancamkan baginya.” (QS Hud: 17)

Maksud dari sekutu-sekutunya adalah pemeluk agama-agama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Demi Allah yang jiwa Muhammad ada di Tangan-Nya, tidak seorang pun dari umat ini, baik dia Yahudi atau Nasrani, mendengar tentang aku, kemudian dia tidak beriman kepadaku, kecuali dia masuk neraka.” (HR Muslim)

22. Bolehkah menzhalimi orang kafir?

Berbuat adil adalah wajib. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan.” (Q.S An-Nahl : 90) Berbuat zhalim (aniaya) adalah haram, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Aku telah mengharamkan perbuatan zhalim terhadap diri-Ku, dan Aku telah menjadikannya haram di di antara kalian, maka janganlah saling menzhalimi.” (HR Muslim)

Orang yang dizhalimi akan mengambil haknya dari orang yang menzhaliminya pada hari kiamat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tahukah kalian siapakah orang yang merugi itu? Para sahabat menjawab, ‘Dia adalah orang yang tidak memiliki dirham maupun harta benda.’ Maka Nabi menjawab, ‘Orang yang merugi dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa dan zakat. Tapi ia mencela si fulan, menuduh si fulan, memakan harta si fulan, dan memukul si fulan yang lain. Maka sebagian dari pahalanya di berikan pada si fulan dan si fulan. Apabila kebaikannya telah habis sebelum lunas tanggungan dosanya, maka dosa-dosa mereka yang dizhalimi diberikan padanya lantas ia dicampakkan ke dalam api neraka.’” (HR Muslim)

Qishas bahkan akan dilakukan terhadap hewan.

23. Apakah bid’ah itu?

Ibnu Rajab rahimahullahu berkata: “Arti bid’ah itu adalah apa yang baru dibuat, yang tidak ada dasar yang melandasinya dalam syariat. Adapun yang mempunyai dasar yang melandasinya dari ajaran agama, secara terminologi itu tidak termasuk bid’ah, walaupun secara etimologi (bahasa) dikatakan bid’ah.

24. Adakah dalam agama bid’ah yang baik dan yang buruk?

Bid’ah yang dicela oleh ayat dan hadits adalah bid’ah secara terminologi, yaitu perbuatan yang baru yang tidak ada dasarnya di dalam syari’at. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Siapa yang melakukan suatu perbuatan yang tidak ada dasarnya dari agama kita maka ia tertolak.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Maka sesungguhnya setiap yang baru itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu adalah sesat.” (HR Abu Dawud)

Imam Malik mendefinisikan bid’ah secara terminologi: “Siapa melakukan hal baru dalam islam (bid’ah) yang ia anggap sebagai sesuatu yang baik, sesungguhnya dia telah menuduh Nabi Muhammad mengkhianati risalah (tugas kerasulan); karena Allah telah berfirman:  “Pada hari ini telah Ku sempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku.” (QS al-Maidah: 3)

Terdapat beberapa hadits yang memuji bid’ah dengan pengertian secara etimologi (bahasa), yaitu perbuatan yang disyari’atkan, namun dilalaikan, maka Rasulullah mendorong untuk mengingatkannya kepada orang lain, sebagaimana sabda beliau: “Siapa melakukan suatu tradisi yang baik dalam Islam, maka dia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang melakukan setelahnya dan pahala mereka tidak berkurang sedikitpun.” (HR Muslim)

Senada dengan arti hadits ini perkataan Umar radhiallahu ‘anhu yang berbunyi: “Ini sebaik-baik bid’ah.” Yang beliau maksudkan yaitu shalat tarawih. Shalat tarawih telah disyari’atkan dan dianjurkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan beliau melakukannya selama tiga malam, lalu beliau tidak melakukannya lagi karena khawatir menjadi wajib, lantas Umar melaksanakannya, dan mengumpulkan orang untuk melakukannya.

***

Dicuplik dari Tafsir Sepersepuluh dari al-Qur’an al-Karim Berikut Hukum-hukum Penting Bagi Muslim, http://www.tafseer.info.

About these ads

3 Tanggapan to “Beberapa Tanya Jawab Penting dalam Islam (Bag 2)”

  1. saya mau bertanya ap hukumnya mkita itu mndoakan iblis agar iblis itu brtobat kepada allah?//
    sudy

  2. ya allah jauhkn hamba dr fitnah dajjal ,,aamiin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 49 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: