Urgensi Segera Menyambut Seruan Allah dan Rasul-Nya Serta Pengaruhnya Terhadap Petunjuk dan Taufik Allah Azza wa Jalla

1. Antara Petunjuk dan Kesesatan

Berkali-kali di dalam al-Qur-an dijelaskan bahwa amal perbuatan yang dilakukan dengan hati dan anggota badan merupakan sebab datangnya dua hal; petunjuk atau kesesatan. Maka sedikit banyaknya perbuatan yang dilakukan seorang hamba dengan hati dan anggota badannya, merupakan penyebab utama datangnya petunjuk atau kesesatan.

Perbuatan yang dilakukan dengan hati dan anggota badan tersebut dapat mendatangkan petunjuk bagi seseorang, layaknya suatu sebab mendatangkan akibat dan pengaruh. Demikian pula yang berlaku pada kesesatan.

Dengan kata lain, semua amal kebajikan yang dilakukan dapat berbuah petunjuk bagi pelakunya. Semakin banyak amal kebajikan yang dilakukan semakin banyak pula petunjuk yang diperoleh. Demikian pula sebaliknya. Semakin banyak perbuatan buruk yang dilakukan, semakin banyak pula kesesatan yang diperoleh. Hal itu karena Allah menyukai kebajikan, sehingga Dia membalasnya dengan petunjuk dan keberuntungan. Tapi Allah tidak menyukai keburukan, sehingga Dia membalasnya dengan kesesatan dan kesengsaraan.

Allah Mahabaik dan mencintai orang-orang yang suka berbuat Baik. Dia menjadikan hati mereka dekat kepada-Nya sesuai dengan kadar kebaikan yang mereka lakukan. Allah pun membenci keburukan dan orang-orang yang suka berbuat buruk. Dan hati mereka dijauhkan dari-Nya sesuai dengan kadar kejahatan yang dilakukan.

Di antara dalil yang menunjukkan bahwa kebajikan membawa kepada petunjuk adalah firman Allah ta’ala:

الم ذَلِكَ الْكِتَابُ لا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

“Alif laam miim. Kitab (al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 1-2)

Ayat ini mengandung dua makna berikut:

  1. Dengan al-Qur-an ini Allah memberikan hidayah kepada orang-orang yang menjaga diri mereka dari segala yang di benci-Nya, sebelum diturunkannya al-Qur’an kepada mereka. Sebab, meskipun mempunyai kepercayaan yang beraneka ragam, umat manusia sebenarnya mengakui bahwa Allah sangat membenci kedzaliman, kekejian dan kerusakan di muka bumi, serta membenci para pelaku perbuatan tersebut. Di samping itu, mereka pun mengetahui bahwa Allah mencintai keadilan, kebaikan, kemurahan hati, kejujuran dan upaya-upaya perbaikan di muka bumi, serta mencintai orang-orang yang mengusahakan hal-hal tersebut. Setelah al-Qur’an diturunkan, Allah lantas memberikan pahala kepada orang yang suka berbuat kebajikan itu, yaitu berupa taufik untuk beriman, sebagai balasan kebaikan dan ketaatan mereka. Di samping itu, Allah menelantarkan orang-orang yang suka berbuat jahat, keji dan aniaya pada waktu itu, sehingga mereka terhalang untuk mendapatkan hidayah-Nya.
  2. Apabila seorang hamba telah mengimani al-Qur’an mengikuti petunjuknya secara umum, serta menerima perintah dan membenarkan kandungan berita di dalamnya, niscaya al-Qur’an menjadi pendorong baginya untuk mendapatkan hidayah lain, hingga ia memperoleh hidayah al-Qur’an ini secara terperinci. Sebagaimana dimaklumi, hidayah Allah tidaklah terbatas. Berapa pun banyaknya hidayah yang diperoleh seorang hamba, pasti masih ada hidayah di atasnya, lalu di atasnya ada lagi hidayah lainnya, dan demikian seterusnya.

2. Antara Takwa dan Hidayah

Semakin meningkat ketakwaan seorang kepada Rabbnya, semakin meningkat pula hidayah yang diperolehnya. Sebaliknya, sebesar kegagalan seorang hamba dalam merajut ketakwaan dirinya, maka sebesar itu pula kegagalannya dalam menggapai hidayah. Dengan kata lain, setiap kali ia menambah kualitas takwanya, maka bertambah pula hidayahnya. Dan setiap kali ia mendapatkan hidayah, berarti kualitas ketakwaannya telah meningkat.

Allah berfirman,

“… sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi al-Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.”  (QS. al-Maidah: 15-16)

Allah juga berfirman,

“…  Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).” (QS. asy-Syuraa: 13)

Allah pun berfirman,

“Orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran.” (QS. al-A’laa: 10)

Dan Allah berfirman,

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya…” (QS. Yunus: 9)

Dari beberapa ayat ini dapat dipahami bahwa mula-mula Allah memberikan hidayah iman kepada orang-orang tersebut. Setelah beriman, diberikanlah kepada mereka hidayah untuk meningkatkan keimanan tersebut. Lalu hidayah demi hidayah pun akan dianugerahkan kepada mereka.

Makna yang sama juga ditunjukkan oleh firman Allah,

“Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk.” (QS. Maryam: 76)

Begitu pula firman Allah,

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan…” (QS. al-Anfaal: 29)

Di antara makna kata furqaan di dalam ayat itu adalah cahaya yang diberikan kepada manusia, sehingga mereka bisa membedakan antara yang haq dan yang  bathil. Atau bisa juga berarti pertolongan dan kemenangan yang mereka peroleh dalam menegakkan yang haq dan menghancurkan yang bathil. Jadi, kata furqaan di dalam ayat itu bisa ditafsirkan dengan kedua makna tersebut.

Allah juga berfirman,

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Tuhan) bagi setiap hamba yang kembali (kepada-Nya).” (QS. Saba’: 9)

Sebagaimana firman-Nya di beberapa tempat dalam al-Qur’an,

“… Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi setiap orang yang sabar lagi bersyukur.” (QS. Luqman: 31, Ibrahim: 5, Saba’: 9 dan asy-Syuraa: 33)

Dalam ayat-ayat di atas Allah memberitahukan bahwa yang dapat mengambil manfaat dari tanda-tanda kebesaran-Nya hanyalah orang-orang yang bersabar dan bersyukur.

Sementara di dalam ayat yang lain Allah menyebutkan bahwa yang dapat mengambil manfaat dari ayat-ayat tentang keimanan hanyalah orang-orang yang bertakwa dan takut kepada Allah, serta orang-orang yang senantiasa bertaubat dan selalu berupaya mengikuti segala yang diridhai-Nya. Sebagaimana firman-Nya,

“Thaahaa. Kami tidak menurunkan al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah, tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah).” (QS. Thaha: 1-3)

Dan firman-Nya mengenai hari kiamat,

“Kamu (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari kiamat).” (QS. an-Naazi’at: 45)

Adapun orang yang tidak mengimani hari kiamat, tidak mengharapkan dan tidak takut kepadanya, maka tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah (yang terlihat oleh mata) tidak akan memberikan manfaat baginya.

Oleh karena itu di dalam surat Hud, setelah menyebutkan hukuman umat terdahulu yang mendustakan para rasul Allah serta kehinaan yang mereka peroleh di dunia, Allah berfirman,

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang takut kepada azab akhirat.” (QS. Hud: 103)

Pada ayat ini Allah ‘Azza wa Jalla memberitahukan bahwa hukuman bagi orang-orang yang mendustakan para rasul itu akan menjadi pelajaran oleh orang yang takut kepada adzab akhirat. Sedangkan orang yang tidak mengimani hari akhir dan tidak takut terhadap adzab-Nya, niscaya pmberitahuan-Nya tersebut tidak akan menjadi pelajaran dan peringatan baginya. Bahkan apabila mendengar tentang itu, dia akan berkata: “Kebaikan dan keburukan, nikmat dan sengsara, bahagia dan celaka, semua itu akan selalu ada sepanjang masa!” Bahkan tidak jarang ia menyangkutpautkan hal itu dengan faktor astronomis dan mental manusia semata.

3. Tauhid Pangkal Syukur

Sabar dan syukur merupakan faktor yang dibutuhkan seorang hamba untuk dapat mengambil manfaat dari ayat-ayat Allah. Sebab iman dibangun di atas pondasi sabar dan syukur. Dikatakan demikian karena pangkal dari syukur adalah tauhid, dan pangkal dari sabar adalah tidak menuruti hawa nafsu.

Sesungguhnya orang musyrik dan orang yang selalu menuruti hawa nafsu tidak akan pernah bisa menjadi orang yang sabar dan bersyukur. Akibatnya ayat-ayat Allah tidak bermanfaat dan tidak berpengaruh terhadap iman di dalam diri mereka.

Perlu kita ingat kembali bahwa kefasikan, kesombongan dan kebohongan akan membawa seseorang pada kesesatan. Ada banyak ayat al-Qur’an yang menerangkan hal ini. Di antaranya adalah beberapa firman Allah di bawah ini:

“Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik, (yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. al-Baqarah: 26-27)

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zhalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 27)

“Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri?” (QS. an-Nisaa: 88)

“Dan mereka berkata, ‘Hati kami tertutup.’ Tidak! Tetapi sebenarnya Allah telah mengutuk mereka karena keingkaran mereka; maka sedikit sekali mereka yang beriman.” (QS. al-Baqarah: 88)

“Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti pertama kali mereka tidak beriman kepadanya (al-Qur’an).” (QS. al-An’aam: 110)

Melalui ayat-ayat di atas, Allah memberitakan bahwa Dia menghukum hamba-hamba-Nya yang tidak beriman, bahkan berpaling setelah keimanan datang kepada mereka dan mereka pun mengetahui. Allah menghukum mereka dengan cara memalingkan hati dan penglihatan mereka, hingga hal itu menghalangi mereka untuk beriman. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam firman Allah,

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila dia menyeru kamu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya…” (QS. al-Anfaal: 24)

Maka dari itu Allah memerintahkan manusia agar memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya pada waktu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak mereka untuk menempuh jalan kebahagiaan. Allah juga memperingatkan hamba-hamba-Nya agar tidak melanggar atau menunda seruan tersebut sehingga menyebabkan terhalangnya petunjuk itu masuk ke dalam hati mereka, sebagaimana firman-Nya:

“… Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka; dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.” (QS. ash-Shaf: 5)

Allah juga berfirman,

“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” (QS. al-Muthaffifin: 14)

Dalam ayat ini Allah memberitahukan bahwa perbuatan orang-orang yang zhalim itu telah menutupi hati mereka sendiri. Akibatnya, hati mereka tidak dapat mengimani ayat-ayat Allah. Oleh sebab itu pula, mereka berani mengatakan bahwa al-Qur’an hanyalah cerita warisan masa lalu, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

“… al-Qur’an ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu.” (QS. al-An’aam: 25)

Adapun mengenai orang-orang munafik, Allah berfirman,

“… mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka.” (QS. at-Taubah: 67)

Allah membalas kelupaan (kelalaian) kaum ini atas-Nya dengan melupakan mereka. Karenanya Allah tidak mengingatkan mereka kepada petunjuk dan rahmat-Nya. Bahkan Dia kemudian membuat mereka lupa kepada diri mereka sendiri [sebagaimana disebutkan dalam al-Hasyr: 19].

Akibatnya orang-orang yang telah memperdayai diri mereka secara tidak sadar tersebut pun enggan menggapai kesempurnaan diri sendiri dengan mempelajari ilmu yang bermanfaat dan berbuat amal shalih. Padahal ilmu dan amal adalah petunjuk dan agama yang haq. Allah menjadikan mereka lalai dalam mencari, mengenal dan mencintai dua hal ini. Dia juga melemahkan semangat mereka untuk meraih keduanya, sebagai hukuman karena telah melupakan-Nya.

Mengenai kaum munafik ini pula Allah berfirman,

“Mereka itulah orang-orang yang dikunci mati hati mereka oleh Allah dan mengikuti hawa nafsu mereka. Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah akan menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaan mereka.” (QS. Muhammad: 16-17)

Di dalam ayat ini Allah menggandengkan penyebutan menuruti hawa nafsu dan kesesatan yang merupakan akibat dari perbuatan mereka sendiri, sebagaimana Allah menggandengkan penyebutan takwa dan petunjuk-Nya bagi orang-orang yang mendapat petunjuk.

***

Disusun ulang dari Fawaidul Fawaid sebagian dari bab Di Antara Metode Penjelasan al-Qur’an karya Ibnu Qayyim al-jauziyyah, Pustaka Imam Asy-Syafi’i 2012

___

Baca juga artikel Islam lainnya:

About these ads

Satu Tanggapan to “Urgensi Segera Menyambut Seruan Allah dan Rasul-Nya Serta Pengaruhnya Terhadap Petunjuk dan Taufik Allah Azza wa Jalla”

  1. Bismillah. izin copy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 49 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: