3 Hadits Lemah Yang Populer Tentang Puasa

Ada 3 hadits yang sangat populer yang berkaitan dengan puasa yang ternyata hadits-hadits tersebut lemah atau dha’if. Ini perlu diketahui dalam rangka membersihkan dienul Islam dari kesalahan pemahaman akibat tersebarnya hadits-hadits lemah tersebut. Terlebih lagi kita tentu tidak ingin terkena ancaman sebagai pendusta dengan mengatasnamakan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam padahal bukan dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam.

Pengertian hadits secara istilah adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam  baik berupa ucapan, perbuatan, ketetapan, perangai maupun sifat jasad beliau shalallahu ‘alaihi wa salam. [1]

Pengertian ini sama dengan pengertian as-sunnah, khobar dan atsar. Berkata al-Hafizh Ibnu Hajar, “Menurut ulama ahli hadits bahwa khobar itu sama dengan hadits dan ada yang mengatakan bahwa hadits adalah yang datangnya dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam  sedangkan khobar adalah yang datangnya dari selain beliau. Juga ada yang berpendapat bahwa semua hadits itu khobar namun tidak semua khobar itu hadits.” [2]

Adapun lemah dalam bahasa Arabnya الضَّعِيفُ yang secara bahasa berarti kebalikan dari kuat, baik tidak kuat secara fisik maupun maknawi. Dan yang dimaksud di sini adalah tidak kuat secara maknawi.

Dari sini dapat kita simpulkan bahwa hadits lemah adalah hadits yang tidak memiliki kriteria hadits shahih dan hasan. Atau dengan bahasa yang lebih bagus lagi bahwa hadits lemah adalah hadits yang tidak memiliki kriteria untuk bisa diterima. [3]

Berikut ketiga hadits lemah yang populer berkaitan tentang puasa:

صُوْمُوْاتَصِحُّوْا 

“Berpuasalah niscaya engkau akan sehat”

Lemah

Diriwayatkan oleh Thobroni dalam al Ausath 2/225, Abu Nu’aim dalam ath-Thib dari jalan Muhammad bin Sulaiman bin Abi Dawud, telah mengabarkan kepada kami Zuhair bin Muhammad dari Suhail bin Abi Sholih dari bapaknya dari Abu Huroiroh secara marfu’.

Sisi cacatnya adalah Zuhair bin Muhammad, dia itu orang yang lemah.

Berkata Imam al-‘Iroqi dalam Takhrij Ihya’: “Diriwayatkan oleh Thobroni dalam al-Ausath dan Abu Nu’aim dalam ath-Thibbun Nabawi dengan sanad lemah”.

Bahkan ash-Shoghoni dalam al-Maudhu’at agak berlebih-lebihan saat menyatakan bahwa ini adalah hadits palsu. [4]

الصَّاـِٕمُ فِي عِبَادَةٍ وَ اِنْ كَانَ رَاقِدًا عَلى فِرَاشِهِ

“Orang yang berpuasa senantiasa dalam ibadah meskipun sedang tidur di atas ranjangnya.”

Lemah

Diriwayatkan oleh Tammam 18/172 berkata: “Telah mengkabarkan kepada kami Yahya bin Abdillah bin Zajjaj berkata: ‘Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Harun, telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Abdurrohman dari Hasyim bin Abu Huroiroh al-Homsi dari Hisyam bin Hassan dari Ibnu Sirin dari Salman bin Amir adh-Dhobbi secara marfu'”.

Sisi cacat hadits ini adalah adanya beberapa orang yang tidak dikenal, yaitu Yahya az Zajjaj dan Muhammad bin Harun.

Barangkali yang shohih, lafadz ini adalah ucapan Abul ‘Aliyah sebagaimana diriwayatkan oleh Abdulloh bin Imam Ahmad dalam Zawa’id Zuhd hlm.303 dengan tambahan lafadz: “Selagi tidak mnggunjing orang lain”. [5]

اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ،وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

“Ya Alloh, untuk-Mu lah saya berpuasa dan atas rezeki-Mu lah saya berbuka.”

Lemah

Diriwayatkan oleh Abu Dawud:2358, Baihaqi 4/239, Ibnu Abi Syaibah: 9744, Ibnu Sunni: 479 dan Baihaqi dalam Syu’abul Iman: 3902 dari Mu’adz bin Zahroh bahwasanya sampai kepada dia bahwasanya Rosululloh apabila berbuka beliau berdo’a: -dengan do’a diatas-

Sisi cacat hadits ini dari tiga sisi:

Pertama: Majhulnya Mu’adz bin Zahroh.

Kedua: Dia itu seorang tabi’in yang langsung meriwayatkan dari Rosululloh, maka haditsnya mursal dho’if.

Ketiga: Sanad hadits ini mudhthorib.

Oleh karena itu dilemahkan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dan al-Albani. [6]

Berkata Abu Yusuf: “Do’a buka puasa yang shohih adalah:

ذَهَبَ الظَّمَأُوَابْتَلَّتِ العُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَاللَّهُ

“Telah hilang rasa haus dan telah basah kerongkongan serta tetaplah pahala insya Alloh. [7]

***

Rujukan:

Hadits Lemah dan Palsu yang Populer di Indonesia, Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf, Pustaka al-Furqon

[1] Lihat Taisir Mustholah Hadits oleh Syaikh Mahmud ath-Thohan hlm. 14

[2] Lihat Nuzhatun Nazhor ma’a Nukat oleh al-Hafizh Ibnu Hajar hlm. 52

[3] Lihat Muqadimah Ibnu Sholah hlm. 37, Tadribur Rowi oleh Imam as-Suyuthi 1/179, Ikhtishor Ulum Hadits oleh Imam Ibnu Katsir hlm. 44. Taudhihul Afkar oleh Imam ash-Shon’ani hlm. 1/247

[4] Lihat adh-Dho’ifah: 253

[5] Lihat adh-Dho’ifah: 653

[6] Lihat takhrij Adzkar hlm: 367, Irwa’: 919

[7] HR. Abu Dawud dan lainnya dengan sanad shohih. Lihat Irwa’: 920, Shohih Jami’ no. 4678

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: