Larangan Menyerupai Yahudi dan Nasrani dalam Menjadikan Kuburan Sebagai Tempat Ibadah

Larangan Menyerupai Yahudi dan Nasrani dalam Menjadikan Kuburan Sebagai Tempat Ibadah. Tree Grave - Courtesy of Deborah Sandidge www.betterphoto.comSebagaimana kita ketahui, Islam adalah agama tauhid yang menegakan peribadahan hanya kepada Allah semata. Dakwah tauhid ini diserukan tidak hanya oleh Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam, tapi juga oleh seluruh Nabi dan Rasul. Dalam sebuah surat dalam al-Qur’an, yaitu Surat al-A’raf, Allah menyebut kisah beberapa Rasul yang mendakwahkan tauhid:

“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya.” Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat).” (QS al-A’raf: 59)

“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Ad saudara mereka, Hud. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?” (QS al-A’raf: 65)

“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka, Saleh. Ia berkata. “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya.” (QS al-A’raf: 73)

“Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan saudara mereka, Syuaib. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya.” (QS al-A’raf: 85)

Maka tidaklah mengherankan jika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam sangat memperhatikan masalah tauhid ini. Beliau berdakwah menitikberatkan pada masalah tauhid selama 13 tahun di Mekah. Berbagai hal yang bertentangan dengan tauhid pun telah dijelaskan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam. Di antara perbuatan yang bisa menghilangkan atau mengurangi tauhid adalah mengaku mengetahui ilmu ghaib, sihir dan perdukunan, mengagungkan berhala atau patung-patung, berkurban untuk selain Allah, mengolok-olok agama, bertawasul kepada selain Allah atau bersumpah dengan selain nama Allah.

Di antara hal yang sangat dikhawatirkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam terhadap umatnya adalah beribadah di kuburan atau menjadikan kubur sebagai tempat ibadah. Beberapa hadits yang menyebutkan pelarangan ini adalah sebagai berikut:

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia bercerita, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam pernah bersabda ketika beliau sakit dan dalam keadaan berbaring,

لَعَنَ اللهُ الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى اِتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

“Semoga laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani, mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah (masjid).”

‘Aisyah berkata, “Kalau bukan karena (laknat) itu, niscaya kuburan beliau akan ditempatkan di tempat terbuka, hanya saja beliau takut kuburannya itu akan dijadikan sebagai masjid.” [1]

Dalam hadits lain, dari ‘Aisyah dan Ibnu Abbas, bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam menghadapi sakaratul maut, maka beliau menempelkan ujung baju beliau ke wajah beliau sendiri. Dan ketika ujung baju itu telah menutupi wajahnya, maka beliau membukanya kembali seraya bersabda, “Laknat Allah atas orang-orang Yahudi dan Nasrani, mereka telah menjadikan makam Nabi-Nabi mereka sebagai masjid.” ‘Aisyah mengatakan, “Beliau memperingatkan agar tidak melakukan seperti apa yang mereka lakukan.” [2]

Al-Hafizh Ibnu Hajar mengemukakan, “Seakan-akan Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam telah mengetahui bahwa beliau akan pergi

Larangan menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah.

Gereja Augustias di Portugal. Gereja yang dibangun di atas kubur Agostinho Xavier de Silva Vidigal yang meninggal pada tahun 1843.

selamanya melalui sakit yang beliau derita, sehingga beliau khawatir makam beliau akan diagung-agungkan seperti yang telah dilakukan orang-orang terdahulu. Oleh karena itu, beliau melaknat orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai isyarat yang menunjukkan celaan bagi orang-orang yang berbuat seperti perbuatan mereka.”

Dalam hadits lain, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia bercerita, ketika Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam jatuh sakit, maka beberapa orang isteri beliau sempat membicarakan tentang sebuah gereja yang terdapat di negeri Habasyah (Ethiopia), yang diberi nama Maria – Ummu Salamah dan Ummu Habibah sudah pernah mendatangi negeri Habasyah – kemudian mereka menceritakan tentang keindahan gereja dan gambar-gambar yang terdapat di dalamnya. ‘Aisyah bercerita, “(Kemudian nabi shalallahu ‘alaihi wa salam mengangkat kepalanya) seraya berucap, “Mereka itu adalah orang-orang yang jika ada orang shalih di antara mereka yang meninggal dunia, maka mereka akan membangun masjid di makamnya itu lalu mereka memberi berbagai macam gambar di tempat tersebut. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah (pada hari kiamat kelak).” [3]

Pengertian Menjadikan Makam Sebagai Masjid

Ibnu Hajar al-Haitami mengatakan di dalam kitab az-Zawaajir (I/121), “Menjadikan makam sebagai masjid berarti shalat di atasnya atau dengan menghadap ke arahnya.”

Larangan menyerupai Yahudi dan Nasrani dalam menjadikan kubur sebagai tempat ibadah.

Gereja St Servatius di Belanda yang dibangun di atas kubur pendeta St Servatius yang meninggal tahun 384. Telah menjadi tempat ziarah selama berabad-abad.

Imam al-Bukhari menerjemahkan hadits pertama dengan mengatakan, “Bab Maa Yukrahu min Ittikhaadzil Masaajid ‘alal Qubuur (Bab Dimakruhkan Membangun Masjid di Atas Kuburan).” Beliau mengisyaratkan bahwa larangan menjadikan kuburan sebagai masjid berkonsekuensi pada larangan membangun masjid di atasnya.

Tidak ada perbedaan antara membangun masjid di atas kuburan dengan menempatkan kuburan di dalam masjid, sehingga keduanya sama-sama diharamkan. Hal ini menunjukan bahwa masjid dan kuburan itu tidak dapat dikumpulkan dalam satu tempat dan berkumpulnya dua hal tersebut bertentangan dengan tauhid dan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan karena keikhlasan inilah masjid itu dibangun. Allah berfirman,

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” (QS al-Jin: 18)

Al-Manawi di dalam kitab Faidhul Qadiir mengatakan, “Artinya, mereka menjadikan makam para Nabi itu sebagai arah kiblat mereka dengan keyakinan mereka yang salah. Dan menjadikan makam itu sebagai masjid menuntut keharusan pembangunan masjid di atasnya dan juga sebaliknya. Hal demikian itu menjelaskan sebab dilaknatnya mereka, yaitu karena tindakan tersebut mengandung sikap berlebihan dalam pengagungan. Al-Qadhi (yakni al-Baidhawi) mengatakan, “Orang-orang Yahudi bersujud kepada makam para Nabi sebagai pengagungan terhadap mereka dan menjadikannya sebagai kiblat, mereka juga menghadap ke makam itu dalam mengerjakan shalat dan ibadah lainnya, sehingga dengan demikian mereka telah menjadikannya sebagai berhala yang dilaknat oleh Allah. Dan Allah telah melarang kaum muslimin melakukan hal tersebut.”

Kenyataan yang ada akibat perbuatan menempatkan kuburan di masjid (atau sebaliknya) adalah berbagai penyimpangan dalam beribadah. Di antaranya berupa pengagungan terhadap penghuni kubur yang dianggap orang shalih lantas menjadikan kubur tersebut sebagai sarana bertaqarrub kepada Allah dengan melakukan berbagai ibadah seperti shalat,  dzikir dan berdo’a. Terlebih lagi jika mereka menjadikan penghuni kubur sebagai perantara dalam berdo’a kepada Allah atau memiliki keyakinan bahwa penghuni kubur tersebut berkuasa untuk dimintai pertolongan atau menghindari mudharat. Padahal Allah berfirman,

“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (QS az-Zumar: 3)

***

Rujukan:

1. Larangan Shalat di Masjid yang Dibangun di Atas Kubur, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, Pustaka Imam asy-Syafi’i, 2004

2. Kitab Tauhid 3, DR. Shalih bin Fauzan bin Abdullah al-Fauzan, Darul Haq, 1999

[1] Diriwayatkan oleh al-Bukhari (III/156, 198 dan VIII/114), Muslim (II/67)

[2] Diriwayatkan oleh al-Bukhari (I/422, VI/386 dan VIII/116), Muslim (II/67), Abu Awanah (I/399), an-Nasa’i (I/115) dll.

[3] Diriwayatkan oleh al-Bukhari (I/416 dan 422), Muslim (II/66), an-Nasa’i (I/115), Ahmad (VI/51) dll.

6 Tanggapan to “Larangan Menyerupai Yahudi dan Nasrani dalam Menjadikan Kuburan Sebagai Tempat Ibadah”

  1. .bgmna dgn mesjid yg sda d daerah kita sperti makam wali dan org yg d keramatkn lainya

    • Semoga artikel berikut dari konsultasisyariah.com bisa menjawab pertanyaan anda. Saya copas:

      Pertanyaan:
      Apakah sah jika kita mengerjakan shalat di
      mesjid yang terdapat kuburan di dalamnya?

      Jawaban:
      Kita tidak diperbolehkan mengerjakan
      shalat di mesjid yang terdapat kuburan di
      dalamnya. Bahkan, seharusnya kita
      menggali kuburan-kuburan tersebut dan
      memindahkan tulang-belulangnya ke
      pemakaman umum. Setiap kuburan harus
      kita letakkan ke dalam sebuah lubang
      khusus, sebagaimana layaknya kuburan
      yang lain. Kita tidak boleh menyisakan
      beberapa kuburan di dalam mesjid, baik
      itu kuburan seorang wali maupun
      selainnya. Alasannya, karena Rasulullah
      shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang
      dan memperingatkan dengan keras agar
      kita tidak melakukannya. Beliau shallallahu
      ‘alaihi wa sallam juga telah melaknat
      orang-orang Yahudi dan Nasrani, karena
      mereka telah mengerjakan amalan
      tersebut.
      Diriwayatkan secara shahih dari Nabi
      shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau
      shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah
      bersabda,
      َﻦَﻌَﻟ ُﻪﻠﻟﺍ َﺩْﻮُﻬَﻴْﻟﺍ ﻯَﺭﺎَﺼَّﻨﻟﺍَﻭ ﺍْﻭُﺬَﺨَّﺗِﺍ َﺭْﻮُﺒُﻗ ْﻢِﻬِﺋﺎَﻴِﺒْﻧَﺃ
      َﺪِﺟﺎَﺴَﻣ
      “Allah melaknat orang-orang Yahudi dan
      Nasrani, karena mereka menjadikan
      kuburan-kuburan para nabi mereka
      sebagai tempat ibadah.”
      Aisyah berkata, ”Beliau memperingatkan
      dengan keras terhadap perbuatan yang
      telah dilakukan oleh mereka (kaum Yahudi
      dan Nasrani). ” (Muttafaqun ‘alaihi)

      Tatkala Ummu Salamah dan Ummu
      Habibah menginformasikan kepada
      Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
      tentang sebuah gereja di negeri Habasyah,
      yang terdapat gambar- gambar makhluk
      bernyawa di dalamnya, maka beliau
      shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
      َﻚِﺌَﻟْﻭُﺃ ﺍَﺫِﺇ َﺕﺎَﻣ ُﻢِﻬْﻴِﻓ ُﻞُﺟَّﺮﻟﺍ ُﺢِﻟﺎَّﺼﻟﺍ ﺍْﻮَﻨَﺑ ﻰَﻠَﻋ
      ِﻩِﺮْﺒَﻗ ﺍًﺪِﺠْﺴَﻣ ، ﺍْﻭُﺭَّﻮَﺻَﻭ ِﻪْﻴِﻓ َﻚْﻠِﺗ َﺭَﻮُّﺼﻟﺍ ، َﻚِﺌَﻟْﻭُﺃ
      ُﺭﺍَﺮِﺷ ِﻖْﻠَﺨْﻟﺍ َﺪْﻨِﻋ ِﻪﻠﻟﺍ
      “Merekalah orang-orang , yang jika ada
      seorang laki-laki shalih dari mereka
      meninggal dunia, lantas mereka akan
      membangun sebuah tempat ibadah di atas
      kuburannya, dan menggambarnya dengan
      gambar-gambar tersebut. Mereka itulah
      sejelek-jelek makhluk di sisi Allah.” (Telah
      disepakati keshahihannya oleh para ulama
      ahli hadits)

      Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa
      sallam juga bersabda,
      َﻻَﺃ َّﻥِﺇَﻭ ْﻦَﻣ َﻥﺎَﻛ ْﻢُﻜَﻠْﺒَﻗ ﺍْﻮُﻧﺎَﻛ َﻥْﻭُﺬِﺨَّﺘَﻳ َﺭْﻮُﺒُﻗ
      ْﻢِﻬِﺋﺎَﻴِﺒْﻧَﺃ ْﻢِﻬْﻴِﺤِﻟﺎَﺻَﻭ َﺪِﺟﺎَﺴَﻣ ، َﻻَﺃ َﻼَﻓ ﺍﻭُﺬِﺨَّﺘَﻳ
      َﺭْﻮُﺒُﻘْﻟﺍ َﺪِﺟﺎَﺴَﻣ ﻲِّﻧِﺈَﻓ ْﻢُﻛﺎَﻬْﻧَﺃ ْﻦَﻋ َﻚِﻟَﺫ
      “Ketahuilah, bahwa orang-orang yang
      hidup sebelum kalian biasa menjadikan
      kuburan-kuburan para nabi dan orang
      shalih dari kalangan mereka sebagai
      tempat ibadah. Ketahuilah, janganlah
      kalian menjadikan kuburan-kuburan
      sebagai mesjid, karena aku telah melarang
      kalian melakukan hal itu.” (Hr. Muslim,
      dalam Shahih-nya dari Jundub bin
      Abdullah al-Bajjali)

      Jadi, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
      telah melarang kita menjadikan kuburan-
      kuburan sebagai mesjid, melaknat siapa
      saja yang melakukan hal itu, dan
      menginformasikan bahwa mereka adalah
      sejelek-jelek makhluk di sisi Allah. Oleh
      karena itu, kita wajib berhati-hati
      terhadapnya.

      Telah dimaklumi, bahwa barangsiapa yang
      shalat di samping sebuah kuburan, berarti
      dia menjadikannya sebagai mesjid (tempat
      ibadah). Demikian pula, barangsiapa yang
      membangun sebuah mesjid di atasnya,
      berarti dia telah menjadikan kuburan
      sebagai mesjid. Oleh karena itu, kita harus
      menjauhkan semua kuburan dari mesjid,
      dan kita juga tidak boleh memakamkan
      orang yang meninggal dunia di dalam
      mesjid, sebagai upaya merealisasikan
      perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
      sallam dan berhati-hati terhadap laknat
      yang berasal dari Rabb kita bagi siapa saja
      yang membangun mesjid di atas kuburan.

      Bila seseorang shalat di dalam sebuah
      mesjid yang terdapat kuburan-kuburan di
      dalamnya, maka kadangkala setan akan
      membujuknya agar mau berdoa,
      beristighasah, shalat, atau sujud kepada
      orang yang telah mati, sehingga akhirnya
      dia terjerumus dalam syirik besar. Sebab
      lain, hal ini termasuk salah satu amalan
      kaum Yahudi dan Nasrani, sehingga kita
      wajib menyelisihi mereka, serta menjauhi
      jalan dan perbuatan mereka yang buruk.

      Akan tetapi, jika kuburan-kuburan itu
      sudah ada lebih dahulu, baru kemudian
      dibangun sebuah mesjid di atasnya setelah
      itu, maka kita wajib menghancurkan dan
      melenyapkan mesjid tersebut, karena ia
      dibangun lebih akhir. Hal ini sebagaimana
      yang telah disebutkan oleh para ulama,
      sebagai upaya mencegah hal-hal yang
      dapat menyebabkan kesyirikan dan
      menutup segala sarananya.

      Hanya Allah
      yang dapat memberikan taufik.

      Sumber: Fatwa-Fatwa Seputar Kubur,
      Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz.

  2. Kalau gitu Ustadz Abu harits akan mempelopori penggalian makam Rasulullah di Masjid Nabawi dan mungkin hal ini akan terjadi kalau umat islam sudah terhasut dengan kaidah diatas. Nauzubillah minjalik.

    • Rasulullah tidak dikuburkan di masjid. Beliau dikuburkan di rumah beliau sebagaimana hadits dari Abu Bakar bahwa para nabi dikuburkan di tempat mereka wafat. Dan Masjid Nabawi memiliki keutamaan yang besar dimana shalat di dalamnya lebih utama 1000 kali dari masjid lainnya kecuali Masjidil Haram. Sehingga tidak boleh memindahkan kuburan Nabi. Namun kondisi yang ada pada Masjid Nabawi sekarang tidak menjadi dalil untuk melanggar ketetapan dari Rasulullah yang melarang menjadikan kuburan sebagai masjid. Walaupun demikian makam Rasul ditutup sedemikian rupa dengan 3 lapis tembok sehingga tidak memungkinkan orang shalat menghadapnya. Sejarah perluasan masjid Nabi hingga seperti sekarang silakan cari melalui mesin pencari ilmu Islam yufid.com

  3. Tambahan buat pak ustadz, inilah kaidah fiqih yang baik dalam menyikapi dalil diatas, ada ulama yang memperbolehkan dan ada juga ulama yang mengharamkannya, jadi jelaskan kepada umat yang benar kalau berhubungan dengan masalah ini, jangan hanya ulama anda saja yang menjadi rujukan tapi gunakan ulama2 lain , ingat mahzab salafi atau wahabi menyuruh kita jangan fanatik terhadap ulama, mari kita telusuri secara menyeluruh:
    Hadits Pelaknatan Orang Nasrani dan Yahudi
    perihal hadits yang menyatakan bahwa orang yahudi dan Nasrani dilaknat oleh Allah swt karena menjadikan kuburan para Nabi dan orang-orang sholih mereka masjid tempat beribadah, itu tidak seperti yang dijelaskan oleh para penentang sholat di dalam masjid yang ada kuburannya itu.

    لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

    “Allah swt melaknat orang-orang yahudi dan Nasrani yang menjadikan kuburan nabi-nabi mereka masjid (tempat bersujud)” (HR. Bukhori 417 / Muslim 825)

    Imam Al-Suyuthi menambahkan redaksi [وصالحيهم] wa Sholihim (orang-orang sholih mereka) berdasarkan riwayat muslim. Pelarangan dalam hadits ini bukanlah dimaksudkan sebagai pelarangan membangun masjid di atas atau sekitaran sebuah kuburan atau makam.

    – Proses Penentuan Hukum

    Para ulama tidak menafsirkan apa yang ada dalam hadits tersebut secara tekstual begitu saja. Perlu diketahui bahwa, seorang ulama –dan ini sudah menjadi aturan baku- dalam menentukan sebuah hukum tidak hanya bersandar pada satu sumber saja.

    Kalau ada sebuah ayat dan juga hadits, beliau akan mencari dengan segenap kemampuannya semua dalil baik itu itu dari Al-Quran dan Sunnah yang memang berkaitan dengan masalah yang sedang digarap itu. Tidak grasak grusuk langsung memvonis hanya dengan satu hadits, itu bukan tabiat seorang ulama.

    Jadi di atas meja ulama itu berkumpul puluhan ayat serta hadits yang berhubungan dengan masalah yang dicari. Kemudian mulailah beliau melakukan sebuah pemindaian (instinbath)¸yang kemudian lahirnya sebuah produk ijtihad yang baik dan sesuai koridor.

    – Ada Qorinah (Pembanding)

    Hadits diatas –setelah pencarian oleh ulama- ternyata punya [قرينة] “Qorinah”, yaitu hadits lain yang jadi pembanding sehingga makna bukan seperti tekstual yang ada dalam hadits tersebut.

    Yang dimaksud dalam larangan diatas bukanlah mendirikan kuburan di atas atau sekitaran. Akan tetapi yang dilarang dalam hadits tersebut ialah menyembah kuburan tersebut, menjadikannya tempat tujuan bersujud, dan menghadapkan diri ke kuburan itu untuk bersembahyang.

    Ini dijelaskan dalam beberapa riwayat, termasuk riwayat Imam Malik dalam kitabnya Muwaththo’:

    عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَنًا يُعْبَدُ اشْتَدَّ غَضَبُ اللَّهِ عَلَى قَوْمٍ اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

    Dari Atho’ bin Yasar, bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “Allahumma (ya Allah) Janganlah kau jadikan kuburanku (bagai) berhala yang disembah. Allah sangat murka kepada kaum yang menjadikan kuburan mereka tempat bersujud (masjid)”[7]

    Jadi memang [اشْتَدَّ غَضَبُ اللَّه] kemurkaan Allah itu muncul karena adanya penyembahan kepada selain Allah swt, karena itu Rasul saw berdoa agar kaumnya (umat Islam) tidak menjadikan kuburannya sebagai sesembahan [اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَنًا] yang kemudian mengbuahkan kemurkaan dan kelaknatan sebagaimana kaum-kaum sebelumnya yang dilaknat karena menyembah kuburan itu.

    Imam Al-Sanadi dalam hasyiyah-nya mengatakan perihal hadits ini:

    وَمرَاده بذلك أَن يحذر أمته أَن يصنعوا بقبره مَا صنع الْيَهُود وَالنَّصَارَى بقبور أَنْبِيَائهمْ من اتخاذهم تِلْكَ الْقُبُور مَسَاجِد

    “yang dimaksud ialah Nabi saw mengecam umatnya memperlakukan kuburan sebagaimana orang yahudi dan nasrani memperlakkan kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat sujud”[8]

    وَمُجَرَّد اتِّخَاذ مَسْجِد فِي جوَار صَالح تبركا غير مَمْنُوع

    “dan hanya mendirikan bangunan di samping kuburannya orang sholih guna meraih keberkahan itu tidak dilarang”[9]

    Karena sejatinya redaksi kata [مساجد] itu jama’ (plural) dari [مسجد], yaitu ism Makan (kata tempat) dari Fi’il (kata Kerja) [سجد] sajada, yang berarti itu bersujud. Jadi memang yang dimaksud itu bersujud, yaitu menyembah kuburan. Bukan mendirikan masjid di atas atau sekitaran makam tersebut.

    Imam Al-Baidhowi sebagaimana dikutip oleh Imam Al-Zarqoni dalam kitabnya yang menjadi penjelas kitab Muwaththo’ Imam Malik, mengatakan:

    لَمَّا كَانَتِ الْيَهُودُ يَسْجُدُونَ لِقُبُورِ الْأَنْبِيَاءِ تَعْظِيمًا لِشَأْنِهِمْ وَيَجْعَلُونَهَا قِبْلَةً وَيَتَوَجَّهُونَ فِي الصَّلَاةِ نَحْوَهَا فَاتَّخَذُوهَا أَوْثَانًا لَعَنَهُمُ اللَّهُ، وَمَنَعَ الْمُسْلِمِينَ عَنْ مِثْلِ ذَلِكَ وَنَهَاهُمْ عَنْهُ، أَمَّا مَنِ اتَّخَذَ مَسْجِدًا بِجِوَارِ صَالِحٍ أَوْ صَلَّى فِي مَقْبَرَتِهِ وَقَصَدَ بِهِ الِاسْتِظْهَارَ بِرُوحِهِ وَوُصُولَ أَثَرٍ مِنْ آثَارِ عِبَادَتِهِ إِلَيْهِ لَا التَّعْظِيمَ لَهُ وَالتَّوَجُّهَ فَلَا حَرَجَ عَلَيْهِ، أَلَا تَرَى أَنَّ مَدْفَنَ إِسْمَاعِيلَ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ عِنْدَ الْحَطِيمِ، ثُمَّ إِنَّ ذَلِكَ الْمَسْجِدَ أَفْضَلُ مَكَانٍ يَتَحَرَّى الْمُصَلِّي بِصَلَاتِهِ.

    “ketika orang Nasrani dan Yahudi menyembah kuburan nabi-nabi mereka sebagai pengagungan kedudukan mereka, dan menjadikan kuburan mereka sebagai kiblat dalam sholatnya, dan menjadikan kuburan itu sesembahan, Allah melaknat mereka. Dan melarang umat islam untuk berlaku seperti itu (org Yahudi dan Nasrani)

    Sedangkan membangun masjid di samping kuburan orang sholih, atau sholat di sekitar pemakamannya, bermaksud menimbulkan ruh spriritualnya dan mencapai (mengikuti) atsar ibadahnya, bukan untuk mengagungkannya dan juga tidak menjadikannya kiblat dalam sholat (menyembahnya) maka itu tidak mengapa”[10]

    Dan kesyirikan yang model seperti ini yang dilakukan oleh orang Yahudi dan Nasrani. Sebagaimana dikuatkan oleh firman Allah swt:

    اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

    “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah[639] dan (juga mereka mempertuhankan) Al masih putera Maryam, Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan” (Al-Taubah 31)

    – Target Poin Hadits

    Dan juga harus diperhatikan, bahwa yang dituju oleh Nabi dengan haditsnya itu ialah praktek orang Yahudi dan Nasrani, bukan prekateknya Muslim. Maka harus dilihat bagaimana mereka memperlakukan kuburan-kuburan Nabu mereka?

    Lalu apakah tempat ibadah mereka sama seperti tempat ibadahnya muslim (masjid)? Tentu berbeda. Maka harus kembali dilihat bagaimana pekerjaan mereka, bukan bagaimana pekerjaan muslim.

    Karena memang Nabi saw mengisyaratkan untuk itu, yaitu prilaku buruk orang Yahudi dan Nasrani yang menyembah kuburan, dan bersembahyang menghadap kuburan tersebut sebagai pengagungan. Apakah muslim melakukan itu?

    Muslim tetap beribadah kepada Allah, berdoanya kepada Allah, sholatnya menghadap kiblat, bukan ke kuburan dan juga orang muslim tidak ada yang bersujud untuk kuburan. Mereka bersujud untuk Allah swt dengan memperhatikan segala rukun dan ketentuannya.

    Dan memang tidak ada sinagog orang Nasrani serta gerejanya orang Yahudi itu tidak seperti masjid-masjidnya orang Islam. Jadi memang berbeda, harus ditinjau benar apa yang memang dilakukan oleh mereka. Mereka menjadikan kuburan para nabi mereka dan orang-ornag sholih mereka sesembahan, dan bukan menjadikannya sinagog atau gereja, sebagaimana dijelaskan diatas.

    Yang terjadi kebanyakan di Indonesia bahwa memang kuburan itu tidak berada di tengah-tengah masjid. Tidak ada yang sepeerti itu. Yang ada hanyalah kuburan orang-orang sholih yang berada di sekitaran masjid, entah itu di taman belakang atau taman depan masjid, walaupun memang masih dalam area masjid. Lalu apa yang menjadi masalah?

    Jadi memang sholat di masjid yang di sekitarnya ada kuburan itu tidak mengapa, karena yang sepakat dilarang dan diharamkan itu ialah menyembah kuburan atau menjadikannya kiblat sholat sebagaimana orang Yahudi dan Nasrani melakukan itu.

    Wallahu A’lam

    • Jika memang anda mengikuti adanya pendapat ulama yang kemudian disimpulkan bolehnya shalat di masjid yang ada kuburan dan beribadah di kuburan, hendaknya anda telaah kembali dan pertimbangkan beberapa poin berikut ini yang saya rangkum untuk memudahkan:

      -Sahabat dan ulama pendahulu kita membenci menyengaja berdoa di kuburan (bukan ucapan doa dan salam bagi penghuni kubur saat ziarah kubur). Diriwayatkan bahwa suatu hari Zainal Abidin (w. 93 H) melihat seseorang masuk ke salah satu pojok di makam Rasul shallallahu ’alaihi wa sallam lalu berdoa di situ. Zainal Abidin pun memanggilnya seraya berkata, “Maukah kuberitahukan padamu suatu hadits yang aku dengar dari bapakku, dari kakekku, dari Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam? Beliau bersabda, “Janganlah kalian jadikan kuburanku ‘ied (tempat yang dikunjungi rutin secara berkala) dan rumah kalian kuburan. Bershalawatlah untukku, sesungguhnya shalawat dan salam kalian akan sampai padaku di manapun kalian berada.” Atau seperti yang disebutkan Ibn Katsir dalam al-Bidayah wa an-Nihayah bahwa para sahabat ketika menaklukkan kota Tustur dan mendapatkan jasad Nabi Danial ‘alaihissalam, mereka menggali tiga belas liang kubur di berbagai tempat, lalu memakamkan Danial di salah satunya di malam hari. Setelah itu seluruh kuburan tersebut disamakan, agar orang-orang tidak tahu manakah makam beliau.

      -Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab Shahih beliau dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhuma tentang asal berhala-berhala yang disembah kaum Nuh, yaitu Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr. Ibnu ‘Abbas berkata: “Ini adalah nama-nama orang shalih dari kaum Nabi Nuh. Ketika orang-orang shalih itu meninggal, setan membisikan kepada kaum orang-orang shalih ini untuk membuat patung yang diberi nama dengan nama-nama mereka dan meletakkannya di tempat-tempat yang biasa mereka gunakan untuk duduk-duduk. Hal ini pun dikerjakan dan saat itu patung-patung tersebut belum disembah. Namun ketika orang-orang yang membuat patung-patung ini mati dan ilmu semakin hilang, patung-patung itu pun akhirnya disembah.” (HR. Bukhari 4539)

      -Imam as-Suyuthy dalam al-Amru bil Ittiba menjelaskan, “Jika seorang insan menyengaja shalat di kuburan atau berdoa untuk dirinya sendiri dalam kepentingan dan urusannya, dengan tujuan mendapat berkah dengannya serta mengharapkan terkabulnya doa di situ; maka ini merupakan inti penentangan terhadap Allâh dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wa sallam. Menyimpang dari agama dan syariatnya. Juga dianggap bid’ah dalam agama yang tidak diizinkan Allâh, Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wa sallam, maupun para imam kaum muslimin yang setia mengikuti ajaran dan sunnah beliau.” Adakah di sini dari perkataan beliau qarinah?

      -Terdapat larangan Rasulullah mengapur dan memberi bangunan di atas kubur. Dalam matan Abi Syuja’ (Ulama kalangan Syafi’iyah) disebutkan “Kubur itu mesti diratakan, kubur tidak boleh dibangun bangunan di atasnya dan tidak boleh kubur tersebut diberi kapur (semen).” (Mukhtashor Abi Syuja’, hal. 83 dan At Tadzhib, hal. 94).

      -Sabda Rasulullah, “Janganlah engkau melakukan perjalanan jauh (safar) kecuali menuju tiga masjid: Al-Masjid Haram, Masjid Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan Masjid Al-Aqshaa.”

      Dari beberapa poin tersebut tampak bahwa Islam menutup segala pintu dan sarana menuju kemungkaran atau yang dikenal dengan kaidah saddu adz-dzarâ’i’. Dalam hal dosa zina, Islam menutup segala sarana menuju perbuatan zina seperti perintah menutup aurat, menundukan pandangan dsb. Dalam larangan minum khamr, Allah melaknat setiap yang terlibat dalam pembuatan khamr, yang memeras, yang minta diperaskan, yang menuang dsb. Apatah lagi dalam hal kesyirikan, dosa besar yang lebih dari zina dan khamr, segala sarana yang bisa mengakibatkan kemusyrikan maka ditutup. Beribadah di dekat makam orang shalih, walaupun bukan menyembahnya, sangat beresiko terjerumus ke dalam kesyirikan karena adanya perasaan agung dan kagum terdapat orang shalih itu lalu menganggap tempat tersebut memiliki keutamaan (tanpa dalil dari pembuat syariat), maka apa jaminan bahwa umat Islam ini tidak akan terjerumus seperti yg terjadi pada kaumnya Nabi Nuh? Juga dalam surat az-Zumar: 3 terdapat peringatan penting tentang perbuatan kaum jahiliyah dimana mereka mengambil tandingan selain Allah yang menurut anggapan mereka itu dalam rangka beribadah kepada Allah, “Dan orang-orang yang menjadikan tandingan-tandingan selain Allah berkata, “Kami tidak menyembah mereka kecuali agar mereka mendekatkan diri kami kepada Allah sedekat dekatnya.”

      Adapun kutipan anda terhadap Imam al-Baidhowi rahimahullah, maka perlu dilihat apakah sesuai dengan dalil atau tidak, seperti comment pendahuluan anda agar jangan fanatik pada ulama. Para Imam yang empat saja melarang taklid kepada mereka jika pendapat mereka bertentangan dengan dalil yang shahih. Juga melihat kenyataan orang yang beribadah di kuburan orang shalih justru karena adanya pengagungan terhadap penghuni kubur padahal al-Baidhowi mengisyaratkan ‘bukan untuk mengagungkan’ yang berarti jika ada pengagungan maka tidak boleh. Jika tidak karena ada pengagungan, tidak mungkin mereka menyengaja bersusah payah, dan mengeluarkan biaya untuk bepergian ke kuburan tertentu padahal Rasulullah telah melarang safar dalam rangka taqarrub kecuali ke 3 masjid.

      Sungguh semua dalil-dalil tadi begitu terjalin harmonis saling berkelindan dan mendukung satu sama lain dalam melindungi kaum muslimin dari jerat kemusyrikan seperti yang pernah terjadi pada kaum terdahulu.

      Semoga ini bisa menjadi bahan renungan bagi yang masih berkeyakinan tidak apa-apa beribadah di dekat kuburan dan tidak apa-apa mendirikan masjid di kuburan. Mohon maaf selanjutnya saya tidak akan meloloskan comment-comment yang akan memancing debat kusir di blog ini. Silakan cari forum lain yang menyediakan sarana demikian. Semoga Allah memberi kita ilmu yang bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: