Tidak Menggerakan Lidah dalam Bacaan Shalat

Taj Mahal Hall - from WikipediaDi antara kesalahan dalam shalat yang mungkin banyak dilakukan adalah tidak menggerakan lidah dan bibir tatkala takbir dan membaca bacaan dalam shalat atau hanya membaca dalam hati saja. Bacaan shalat hanya sekedar dilintaskan dalam hati saja seakan-akan shalat itu hanya gerakan tanpa ada perkataan dan dzikir-dzikir.

Allah Ta’ala berfirman,

فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ

“… karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari al-Qur’an.” (QS al-Muzzammil: 20)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا صلاة لمن لم يقرأ بفاتحة الكتاب

“Tidak sah shalat seseorang jika tidak membaca al-Fatihah.” (HR Bukhari, Muslim, Abu ‘Awanah dan Baihaqi. Lihat  Irwa’ hadits no 302)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika mengajari seseorang shalat, “Apabila kamu melaksanakan shalat, maka bacalah takbir, lalu bacalah apa yang mudah menurut kamu dari ayat Al-Qur’an…” (HR Abu Daud dan Al-Baihaqy dari jalannya, hadits hasan)

Dalil-dalil di atas menunjukkan bahwa shalat itu tidak hanya gerakan saja namun meliputi perkataan, karena yang dimaksud dengan membaca itu adalah menggerakan lidah seperti yang telah maklum adanya.

Di antara dalil yang memperkuat pernyataan ini adalah firman Allah Ta’ala, “Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) al-Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasai) nya.” (QS al-Qiyamah: 16)

Oleh karena itu para ulama yang melarang orang junub membaca ayat al-Qur’an, memperbolehkannya melintaskan bacaan ayat di dalam hati. Sebab dengan sekedar melintaskan bacaan ayat di dalam hati tidak digolongkan membaca.

An-Nawawi rahimahullah berkata, “Orang yang sedang junub, haidh dan nifas boleh melintaskan bacaan ayat al-Qur’an di dalam hati tanpa melafadzkannya. Begitu juga dia diperbolehkan melihat mushaf sambil membacanya dalam hati.” (al-Adzkaar hal 10)

Muhammad ibn Rusyd berkata, “Adapun seseorang yang membaca dalam hati, tanpa menggerakan lidahnya, maka hal itu tidak disebut dengan membaca. Karena yang disebut dengan membaca adalah dengan melafadzkannya di mulut. Dengan suara hati inilah perbuatan manusia tidak dianggap hukumnya. Allah ‘Azza wa Jalla telah berfirman, “Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dilakukannya.” (QS al-Baqarah: 286)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Allah mengampuni dari umatku tehadap apa yang masih terjadi di dalam jiwa (hati) mereka.” (Hadits ini berkualitas shahih. Lihat Irwaa’ul Ghalil (VII/139) nomor 2062)

Mengenai keras bacaan seseorang dalam shalatnya, Imam asy-Syafi’i berkata di dalam kitab al-Umm, “Hendaklah suaranya bisa didengar sendiri dan orang yang berada di sampingnya. Tidak patut dia menambah volume suara lebih dari ukuran itu.”

Para ulama madzhab Syafi’i berpendapat bahwa orang yang bisu tidak sejak lahir – karena mengalami kecelakaan di masa perkembangan – wajib menggerakan mulutnya ketika membaca lafadz takbir, ayat-ayat al-Qur’an, doa tasyahud dan lain sebagainya. Karena dengan berbuat demikian dia telah dianggap melafadzkan dan menggerakan mulut. Sebab perbuatan yang tidak mampu dikerjakan akan dimaafkan, akan tetapi selagi masih mampu diperbuat maka harus dilakukan. (Lihat Fataawaa al-Ramli (I/140) dan Hasyiyah Qulyubiy (I/143))

Mayoritas ulama lebih memilih untuk mensyaratkan bacaan minimal bisa didengar oleh diri pembaca sendiri. Sedangkan menurut ulama madzhab Maliki cukup menggerakan mulut saja ketika membaca ayat-ayat al-Qur’an. Namun lebih baik jika sampai bisa didengar oleh dirinya sendiri sebagai upaya menghindar dari perselisihan pendapat. (Lihat ad-Diin al-Khaalish (II/143))

***

Rujukan:

-Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan bin Mahmud bin Salman, Koreksi Total Ritual Shalat, Pustaka Azzam 1993.

-Muhammad Nashiruddin al-Albani, Sifat Shalat Nabi, Media Hidayah 2000.

-www.alsofwah.or.id, Tuntunan Shalat Menurut Al-Qur’an dan As Sunnah.

7 Tanggapan to “Tidak Menggerakan Lidah dalam Bacaan Shalat”

  1. Ali Manshur Says:

    bagus dan setuju sekali apa yg tlh di sampaikan swun

  2. jamal wildan abdat Says:

    Assalamualaikum ustadz. saya tertarik dengan kajian mengenai hukum menggerakkan lidah (membaca) dalam sholat, namun ada yg saya ingin tanyakan, kapan dan bagaimana kita boleh membacanya dengan menggerakkan lidah dan mengeluarkan suara ? apakah saat sholat sendiri saja atau juga pada saat menjadi makmum ? serta bagaimana aturannya jika kita harus membacanya saat menjadi makmum diwaktu subuh, magrib, isya dan tarawih dimana imam mengeraskan bacaannya ? saya juga pernah membaca di dalam al-qur’an, Allah telah memerintahkan, apabila dibacakan al-qur’an maka dengarkanlah, apakah itu berarti kita sebagai makmum tidak perlu membaca bacaan sholat termasuk AL- fatikhah, cukup diam dan mendengar ? adapun jika kita tetap di diwajibkan membacanya, apakah itu tidak bertentangan dengan perintah Allah, dan apakah tidak mengganggu kekhusukan makmum lain ? demikian ustadz, saya mohon bantuannya untuk menjawab agar tidak menjadi keraguan bagi saya, sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terimakasih, jazakumuLlah wassalam’alaikum wr, wb

    • Wa’alaikumus salam wa rahmatullahi wa barakatuh,

      Membaca bacaan shalat (dengan lisan) dilakukan baik ketika shalat sendirian maupun bermakmum pada imam yg tidak mengeraskan bacaannya. Adapun mengenai membaca al-Fatihah saat menjadi makmum setahu saya ada perbedaan pendapat para ulama. Sebagai bahan pembelajaran, silakan baca link berikut ini: http://goo.gl/qycOCF dan http://goo.gl/Qqk3GO

  3. Assalamualaikum ustadz..?saya suka dengan penceramah agama yg ada tanya jawabnya seperti rubric ini. Yg ingin saya tanyakan
    Bagaimana dengan sholat saya ini apabila sholat dengan kalbu lebih khusyu dan nikmat di bandingkan sholat jahr..?hukumnya bagaimana. ?dan saya juga pernah baca artikel bahwasanya Allah swt.akan meminta pertanggungjawaban kpd manusia 3 hal:
    1.hati
    2.penglihatan
    3.pendengaran
    sekian dari saya terima kasih.jazakumullah.wassallamualaikum.wr.wb.

    • Wa’alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh,

      Seluruh ibadah itu melibatkan amalan hati seperti tunduk dan khusyu disamping ada juga yang melibatkan amalan lisan, anggota tubuh dan harta. Shalat disamping amalan hati juga melibatkan amalan lisan dan anggota tubuh. Artikel Islam di atas menjelaskan bahwa bacaan shalat tidak cukup di dalam hati saja namun juga diucapkan dengan lisan tanpa harus dijahrkan sampai mengganggu orang lain. Insya Allah ucapan lisan ini tidak akan mengganggu kekhusyuan hati.

  4. Asw. Jd intjnya kalo sholat gk blh cm mingkem ya? Jd dari takbir,doa iftitah,alfatihah, surat pendek,duduk diantara 2 sujud dll hrs bersuara? Semua nya dlm gerakan sholat hrs bersuara? Syukron

    • Seperti dijelaskan dalam artikel intinya adalah menggerakkan lisan tidak hanya dalam hati dan jika sampai bersuara tidak sampai mengganggu orang di dekat kita. Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: