Beberapa Tanya Jawab Penting dalam Islam (Bag 1)

Tanya jawab penting tentang IslamDi antara metode atau uslub dalam pendidikan adalah dengan cara tanya jawab. Metode semacam ini banyak terdapat dalam ayat-ayat al-Qur’an dan dalam hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagai salah satu contoh adalah apa yang terdapat dalam sebuah hadits shahih yang cukup terkenal, yaitu hadits Jibril yang datang berupa seorang laki-laki dan bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang Islam, iman dan ihsan. Di akhir hadits tersebut Rasulullah mengatakan, “Wahai Umar, tahukah engkau siapakah orang yang bertanya itu?” Umar menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Kemudian Rasulullah bersabda, “Ia adalah Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajari kalian tentang agama kalian.”

Berikut ini adalah beberapa permasalahan dalam Islam yang cukup penting untuk diketahui oleh seorang muslim dalam bentuk tanya jawab untuk mempermudah dalam memahami dan mengingatnya.*

1. Apakah syarat diterimanya amal shaleh?

Syarat diterimanya amal shaleh:

a. Beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mentauhidkan-Nya. Amalan orang yang berbuat syirik tidak akan diterima.

b. Ikhlas, yakni bahwa amalan shaleh tersebut dilakukan semata-mata karena mengharapkan ridha Allah.

c. Mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam amalan itu, dengan cara mengerjakan sesuai dengan apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan. Sehingga Allah tidak diibadahi kecuali dengan apa yang diajarkan oleh beliau.

Jika salah satu dari syarat-syarat itu tidak terpenuhi, maka amalan akan tertolak/tidak diterima. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (QS al-Furqan: 23)

2. Apakah arti iman itu dan ada berapa rukunnya?

Iman artinya, keyakinan hati, ucapan lisan, dan amalan anggota badan. Bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada).” (QS al-Fath: 4)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iman itu ada tujuh puluhan cabang. Cabang yang tertinggi adalah ucapan “Laa ilaaha illallah” (tidak ada tuhan yang haq kecuali Allah) dan yang paling rendah adalah menjauhkan gangguan dari jalan. Rasa malu adalah salah satu cabang dari keimanan.” (H.R Muslim)

Ini diperkuat oleh apa yang dirasakan seorang muslim dalam dirinya berupa sikap semangat dalam ketaatan tatkala berada pada musim-musim kebaikan, dan rasa malas pada musim-musim tersebut ketika melakukan kemaksiatan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (QS Hud: 114)

3. Apa makna Laa ilaaha illallah?

Maknanya yaitu meniadakan hak ibadah bagi selain Allah, dan menetapkannya hanya untuk Allah yang Maha Esa semata.

4. Apakah Allah bersama kita?

Ya benar, Allah bersama kita dengan pengetahuan, pendengaran, penglihatan, penjagaan, peliputan, kekuasaan dan kehendak-Nya. Adapun Dzat-Nya tidak bercampur dengan dzat makhluk dan tidak ada satu makhluk pun yang bisa meliputi-Nya.

5. Apakah Allah bisa dilihat dengan mata?

Kaum muslimin sepakat bahwa Allah tidak bisa dilihat di dunia. Akan tetapi orang-orang yang beriman akan melihat-Nya di padang mahsyar dan di surga. Allah berfirman: “Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri, kepada Tuhannyalah mereka melihat.” (QS al-Qiyamah: 22-23)

6. Apakah kegunaan mengetahui nama-nama dan sifat-sifat Allah?

Sesungguhnya kewajiban pertama yang diwajibkan Allah kepada makhluk-Nya adalah mengenal Allah. Apabila manusia mengenal Allah, maka mereka akan beribadah kepada-Nya dengan sebenar-benar ibadah, Allah berfirman: “Maka ketahuilah, bahwa tidak ada tuhan (Yang Haq) melainkan Allah.” (QS Muhammad: 19)

Dengan mengingat luasnya rahmat Allah menjadikan penuh harap (الرجاء), mengingat pedihnya siksa dan murka Allah menimbulkan ketakutan yang sangat (الخوف), dan dengan mengingat keesaan Allah dalam menganugerahkan nikmat mengharuskan rasa syukur kepada-Nya. Maksud dari beribadah kepada Allah dengan nama dan sifat-Nya adalah mewujudkan pengetahuan tentang nama dan sifat Allah tersebut, memahami arti yang terkandung di dalamnya, serta mengamalkannya. Di antara nama dan sifat-Nya terdapat sifat yang apabila dimiliki oleh seorang hamba maka ia dipuji, seperti ilmu, kasih sayang, dan adil. Di antara sifat dan nama-Nya apabila dimiliki oleh seorang hamba maka ia dicela, seperti sifat ketuhanan, absolut, dan sombong. Sementara ada beberapa sifat bagi hamba yang dipuji karenanya, dan diperintahkan untuk memilikinya, tetapi tidak boleh sifat tersebut ada pada Allah, seperti sifat kehambaan, membutuhkan, berhajat, menghinakan diri, memohon dan semisalnya. Sesungguhnya makhluk yang paling dicintai Allah adalah yang memiliki sifat yang dicintai-Nya, dan yang paling dibenci Allah adalah orang yang memiliki sifat yang dibenci-Nya.

7. Apa rincian Asmaul Husna?

Allah berfirman: “Allah memiliki nama-nama yang baik, maka serulah Dia dengan nama-nama itu.” (QS al-A’raf: 180). Dalam sebuah hadits shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Siapa yang menghitungnya maka akan masuk surga.” (Muttafaq ‘alaihi )

Adapun pengertian ihsha (menghitung) adalah : 1) Menghitung lafadz dan jumlahnya 2) Memahami makna yang tersirat dan  terkandung di dalamnya serta mengimaninya. Apabila ia mengatakan الحكيم Al-Hakim (Yang Maha Bijaksana), berarti dia menyerahkan seluruh urusannya kepada Allah, karena seluruhnya itu sesuai dengan hikmah dan kebijaksanaan-Nya. Apabila dia berkata القدّوس Al-Quddus (Yang Maha Suci), maka dia merasakan bahwa Allah itu suci dan bersih dari segala kekurangan. 3) Berdo’a kepada Allah dengan nama-nama-Nya.

Doa ada dua: a) Doa pujian dan ibadah. b) Doa permohonan dan masalah.

8. Apakah perbedaan antara nama Allah dan sifat-Nya?

Nama Allah dan sifat-sifat-Nya dapat dipakai untuk minta perlindungan dan bersumpah. Akan tetapi keduanya memiliki perbedaan, di antaranya yang terpenting adalah:

Pertama: Dibolehkan memberikan nama Abd (hamba) di depan nama-nama Allah, dan berdo’a dengan-Nya. Adapun dengan sifat-sifat-Nya tidak boleh. Contoh pemberian nama dengan abd, seperti عبدالكريم Abdul Karim (hamba Yang Maha Mulia), namun pemberian nama عبدالكرم Abdul Karam (hamba kemuliaan) tidak boleh. Begitu pula berdo’a dengan memanggil salah satu nama Allah ياكريم ya Karim (wahai Yang Maha Mulia), akan tetapi tidak boleh berdo’a dengan menyebut ياكرم الله ya karamallah (wahai kemulian Allah).

Kedua: Dari nama-nama Allah diambil sifat-sifat-Nya, seperti nama الرحمن Al-Rahman, dapat diambil dari nama tersebut sifat الرحمة rahmah. Adapun sifat-sifat Allah, tidak bisa diambil darinya nama-nama bagi Allah, seperti sifat الاستواء istiwa’ tidak dapat diambil darinya nama Allah المستوي Al-Mustawy (Yang beristiwa’).

Ketiga: Perbuatan Allah tidak bisa diambil darinya nama yang tidak ada dalam nama-nama Allah. Di antara perbuatan Allah adalah الغضب al-Ghadhab (marah), tidak bisa diambil darinya nama untuk Allah seperti الغاضب Al-Ghaadhib. Adapun sifat-sifat-Nya dapat diambil dari perbuatan-Nya. Oleh karena itu sifat marah, kita tetapkan bagi Allah karena marah itu adalah salah satu perbuatan Allah.

9. Cukupkah kita berpedoman dengan al-Quran saja tanpa sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Tidak cukup, karena Allah memerintahkan untuk berpegang kepada sunnah dalam firman-Nya: “Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (Q.S Al-Hasyr: 7)

As-Sunnah berfungsi sebagai penafsir Al-Qur’an. Rincian syari’at agama, seperti shalat, tidak dapat diketahui tanpa sunnah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ketahuilah sesungguhnya aku diberi kitab (al Quran) dan semisalnya bersamanya, ketahuilah akan ada seorang yang kenyang (duduk) di atas kursinya lalu berkata: berpeganglah kalian pada Al Quran ini, hal-hal yang halal yang kalian temui di dalamnya maka halalkanlah, dan hal-hal yang haram yang kalian temui di dalamnya, maka haramkanlah.” (H.R Abu Daud)

10. Apakah arti beriman kepada para rasul?

Yaitu pembenaran yang pasti, bahwa Allah telah mengutus seorang rasul kepada setiap umat dari golongan mereka, mengajak mereka untuk beribadah kepada Allah semata, dan mengingkari sesuatu yang diibadahi selain-Nya, dan para rasul itu semuanya jujur, dipercaya, pintar, mulia, berbakti, bertakwa, terpercaya, pemberi petunjuk, dan diberi petunjuk, mereka menyampaikan risalah/misi, makhluk yang paling baik, dan suci dari mempersekutukan Allah sejak lahir sampai meninggal dunia.

11. Apakah macam-macam syafaat pada hari kiamat?

Ada berbagai macam syafaat, yang terbesar adalah syafa’at uzhma (syafa’at terbesar). Yang terjadi pada saat manusia dikumpulkan pada hari kiamat, setelah lima puluh ribu tahun manusia berdiri menunggu keputuskan urusan mereka, lantas Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan syafa’at di sisi Rabbnya dan memohon kepada-Nya untuk memutuskan urusan mereka. Syafa’at ini hanya dimiliki oleh pemimpin kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan merupakan kedudukan terpuji yang dijanjikan untuk beliau.

Kedua: Syafa’at untuk meminta dibukanya pintu surga. Orang yang pertama kali minta dibukakan pintu surga adalah Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umat yang pertama kali masuk surga adalah umat beliau.

Ketiga: Syafa’at untuk sekelompok kaum yang telah diperintahkan untuk dimasukkan ke dalam api neraka, agar tidak jadi memasukinya.

Keempat: Syafa’at untuk pelaku maksiat dari kalangan ahli tauhid yang telah masuk neraka, agar dikeluarkan darinya.

Kelima: Syafa’at untuk meninggikan derajat sekelompok penghuni surga.

Ketiga macam syafa’at terakhir ini (syafa’at ketiga, keempat dan kelima) tidak dikhususkan untuk nabi kita, tapi beliau adalah yang diberi kesempatan terlebih dahulu. Setelah beliau, yang memberikan syafaat adalah para nabi, malaikat, orang-orang sholeh, dan para syuhada’ (orang yang mati syahid).

Keenam: Syafa’at untuk sekelompok manusia agar masuk surga tanpa hisab.

Ketujuh: Syafaat untuk mendapatkan keringanan azab bagi sebagian orang kafir. Syafa’at ini adalah khusus bagi nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk paman beliau Abu Thalib, agar azabnya diringankan.

Kemudian Allah dengan rahmat-Nya mengeluarkan sekelompok orang yang meninggal dunia dalam keadaan bertauhid dari api neraka, tanpa syafa’at dari siapapun. Jumlah mereka tidak ada yang bisa menghitungnya kecuali Allah, lalu dimasukkan ke dalam surga dengan rahmat-Nya.

12. Bolehkah minta tolong, atau minta syafa’at dari orang yang masih hidup?

Boleh, syari’at Islam menganjurkan untuk memberikan pertolongan kepada sesama. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa.” (Al-Maidah: 2) Rasulullah bersabda: “Allah akan senantiasa menolong seorang hamba, selagi ia menolong saudaranya.” (H.R.Muslim)

Adapun syafa’at, maka keutamaannya besar sekali, syafaat disini berarti perantaraan, Allah berfirman: “Barangsiapa yang memberikan syafa’at yang baik,niscaya ia akan memperoleh bagian (pahala) daripadanya.” (An-Nisaa:85) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Berilah syafa’at (jadilah sebagai perantara yang menolong), niscaya kalian akan diberi pahala.” (HR Bukhari)

Semua hal di atas harus sesuai dengan beberapa syarat:

Pertama: Syafa’at itu berasal dari orang yang masih hidup. Adapun memohon syafa’at dari orang yang sudah meninggal dinamakan do’a. Padahal si mayit tidak dapat mendengar permohonannya. Allah berfirman: “Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada menmendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu.” (Fathir:14) Maka bagaimana mayit sampai di seru, padahal ia sendiri butuh doa orang yang masih hidup. Amalannya telah terputus dengan kematiannya kecuali apa yang dapat sampai kepadanya berupa pahala doa dan lainnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara, sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak soleh yang mendoakan.” (H.R Muslim)

Kedua: Mengerti apa yang diutarakan kepadanya.

Ketiga: Orang yang dimintai syafa’at hadir di hadapan yang meminta.

Keempat: Syafaat itu harus dalam hal yang mampu dilakukan.

Kelima: Dalam urusan duniawi.

Keenam: Pada perkara yang dibolehkan dan tidak mengandung kemudharatan.

13. Ada berapa jenis tawasul?

Tawasul ada dua bagian:

Pertama: Tawasul yang dibolehkan; tawasul ini ada tiga macam:

1) Tawasul kepada Allah dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya.

2) Tawasul kepada Allah dengan sebagian amal sholeh (yang dikerjakan oleh si pemohon), seperti kisah tiga orang yang terkurung di dalam gua.

3) Tawasul kepada Allah, dengan do’a seorang muslim yang shaleh yang masih hidup, yang hadir (berada di hadapannya) yang diharapkan do’anya akan dikabulkan.

Kedua: Tawasul yang haram (dilarang), tawasul ini ada dua macam:

1) Berdo’a kepada Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan jah (kedudukan) Nabi atau wali. Seperti ungkapan: “Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu dengan bertawasul dengan jah (kedudukan) nabi-Mu”, atau dengan jah Husain misalnya. Memang benar, bahwa jah (kedudukan) Nabi agung sekali di sisi Allah, begitu juga jah (kedudukan) orang-orang shaleh. Akan tetapi para sahabat yang mereka adalah orang yang paling antusias kepada kebajikan, tatkala terjadi paceklik, mereka tidak bertawasul dengan jah (kedudukan) Nabi padahal makam beliau ada di tengah-tengah mereka. Mereka hanya bertawasul dengan do’a paman beliau yang pada waktu itu masih hidup, yaitu Abbas radhiallahu ‘anhu.

2) Meminta kepada Allah untuk dikabulkan hajatnya seraya bersumpah dengan nama nabi-Nya atau wali-Nya, seperti ungkapan: “Ya Allah sesungguhnya aku meminta kepada-Mu (untuk dipenuhi) ini dan itu, demi wali-Mu si fulan, atau demi hak nabi-Mu.” Bersumpah dengan nama makhluk terhadap makhluk saja hukumnya dilarang, apalagi terhadap Allah, hal itu lebih dilarang lagi. Seorang hamba tidak memiliki hak apapun terhadap Allah karena semata-mata mentaati-Nya.

***

Dicuplik dari Tafsir Sepersepuluh dari al-Qur’an al-Karim Berikut Hukum-hukum Penting Bagi Muslim, http://www.tafseer.info.

___

Baca artikel Islam lainnya:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: